Wellcome To Seni & Budaya

What time

Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 24 Juni 2011

Sketsa Kehidupan

Sketsa Kehidupan “Manusia Kadang Lupa Akan Fitrahnya”

          Illustrasi/Gopries82 Galery
Sketsa Kehidupan, berasal dari dua kata Sketsa dan Keidupan yang dirangkai dan dirangkum menjadi satu istilah yang mempunyai makna yang menggambarkan sifat atau kondisi suatu keadaan makhluk hidup. Sketsa : bisa diartikan sebagai sket, desain atau gambaran, sedangkan Kehidupan: berasal dari kata dasar Hidup diartikan sebagai benda bernyawa, benda bergerak yang dimaknai sebagai makhluk hidup dalam arti tunggal atau berdiri sendiri.. Namun, ketika kata hidup mendapatkan awalan ke dan akhiran an, menjadi kehidupan, kata tersebut mempunyai makna yang komplek yang selalu berhubungan dengan lingkungan, proses hidup, gaya hidup, psikologi, sosial, ekonomi dan budaya, religi, politik dan sebagainya yang mewarnai kehidupan itu sendiri.

Sketsa Kehidupan makhluk: Tumbuhan, binatang, manusia (bisa sendiri-sendiri / indifidu, atau kelompok tumbuhan, binatang dan kelompok orang/manusia, ras atau suku) tidak lepas dari lingkungan dimana mereka hidup. Dengan kata lain sketsa kehidupan manusia sebagai insan berakal yang mempunyai nalar dan budi pekerti, tidak lepas dari pengaruh faktor-faktor tersebut di atas. Sedangkan kehidupan tumbuhan dan binatang hanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan, mereka tidak akan mengenal istilah ekonomi, politik, religi, kita semua tahu/paham kan mengapa?, karena mereka tidak berakal. Untuk itu kita semua sebagai manusia, bersyukurlah kepada-Nya Yang Maha Pencipta alam dan seisinya, bahwa Allah menciptakan manusia seperti kita-kita ini sebagai makhluk yang sangat mulia, sebagaimana dalam firman-Nya sebagai berikut:

‘Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik, dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan’ (QS Al-Isra: 70)

Salah satu hal yang mengindikasikan dimuliakannya manusia adalah peniupan ruh pada diri manusia. Allah SWT berfirman, ‘Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ‘ke dalamnya ruh-Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS As-Sajdah: 9).

Kehidupan Manusia berbeda dengan makhluk lainnya.

Sudah jelas ada perbedaan sketsa kehidupan manusia dengan makhluk lainnya. Manusia dan binatang sama-sama mempunyai naluri atau insting, namun perbedaan manusia dan binatang sangat-sangatlah jelas mempunyai sifat yang berbeda, apa yang membedakannya? Sudah tentu dengan adanya akal pikiran atau nalar, akhlak dan iman. Binatang tidak mempunyai rasa malu, nggak punya rasa ewuh-pakewuh, tidak punya rasa unggah-ungguh (etika), tidak punya rasa tepa-slira (tengang rasa). Karena memang sudah dalam Qodrat-Nya mereka diciptakan tidak mempunyai akhlak seperti insan manusia. Tidak berakhlaknya binatang, sehingga mereka dalam melakukan kehidupannya tidak mempunyai norma-norma apapun sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan sehari-hari, misal kemanapun perginya mereka tetap telanjang, dan dalam melakukan hubungan intim maaf “seks” dimanapun mereka akan melampiaskan napsu birahinya dengan rasa enjoynya tak peduli ada siapa di kanan kiri , sama sekali tidak punya rasa malu, begitu pula .dalam mengais rizki, mencari makan atau mangsa, sebagaimana kita lihat “misalkan di hutan belantara dua ekor binatang buas yang sedang mengalami kelaparan dan menemukan mangsanya, mereka dengan napsu akan menyantapnya secara berlebihan dan menggagahi mangsanya dengan rakus, sifat egoisnya, dan akan berkelahi / bertarung habis-habisan bila mangsa dalam genggamannya hendak direbut binatang lain. Dengan rasa egonya dan napsu amarahnya akan menggunakan tulang dan ototnya sebagai kekuatan untuk mempertahankan mangsanya”.

Lain halnya bila peristiwa itu terjadi maaf “berebut mangsa” atau mencari rizki yang dilakukan manusia. Manusia sebagai makhluk sosial / insan yang ber-akhlak, berakal dan ber-iman, yang mempunyai pedoman hidup Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad S.A.W, serta norma-norma/hukum negara, adat dan budaya yang berlaku selama tidak bertentangan dengan Firman-Nya, adalah sebagai tuntunan dan pedoman untuk melakukan kehidupannya, secara sadar dan harus disadari tentunya tidak akan melakukan atau berbuat sasuatu yang dilarang oleh pedoman-pedoman tersebut, dan tidak akan berperilaku kekerasan seperti binatang tersebut. Dengan menggunakan akhlak, akal, iman dan rasa sosial sebagai manusia yang mulia tentunya akan lebih santun, arif, beretika dan lebih bijak dalam melakukan suatu kegiatan-kegiatan tersebut. Kalau toh itu dalam “berebut mangsa” atau melakukan sesuatu seperti binatang itu ada, dan dilakukan oleh manusia, apa yang terjadi dan apa sebutan kehidupan pada manusia tersebut?. Maaf barang kali kurang pas/tidak bijaksana dan terlalu kasar bila disebutkan Kehidupan “Manusia Seperti Binatang” yang jelas Manusia tersebut dalam keadaan lalai/lupa akan Fitrah-Nya. Mengapa dan bagaimana bisa terjadi ?

Pada dasarnya fitrah manusia itu cenderung bersyariat Islam, sebagaimana firman Allah, “Maka hadapkanlah wajahmu lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ar-Ruum: 30)

Allah berfirman, “(Ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil saksi terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):“Bukankah Aku ini Tuhanmu. Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).” (Al-A’raf: 172)

Dari kedua ayat di atas dapat dipahami bahwa Allah menciptakan hati manusia dengan kecenderungan alami, yakni seruan iman. Kecenderungan inilah yang disebut dengan fitrah. Konsekuensi dari iman adalah mengerjakan segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah atau dengan kata lain mengamalkan syariat Allah. Fitrah ini Allah ciptakan pada diri manusia sejak dalam kandungan ibunya, lalu ia dilahirkan ke dunia dalam keadaan fitrah, Nabi saw bersabda, “Setiap anak bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang memajusikannya atau menasranikannya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Oleh : Prihartanto Tanto

Comments :

0 komentar to “Sketsa Kehidupan”

Poskan Komentar

Blog Archive

 

Copyright © 2009 by Goresan Warna

Template by Blogger Templates | Powered by Blogger